Akhir-akhir ini aku menikmati semua aktifitas yang kulakukan. Nongkrong, memahami musik, merencanakan selama satu semester ini mau ngapain, membaca buku, ngobrol, semuanya seakan mengalir santai. Entah sih, perasaan menikmati semuanya ini seakan baru kurasakan. Aku menikmati semuanya yang telah berlalu hingga saat ini aku menulis. Lalu terlintas sebuah tanya "kenapa jadi melankolis gini sih?" diikuti oleh suasana kamar yang sejuk karena kunyalakan kipas angin di siang yang terik ini dan alunan merdu Payung Teduh dan Mocca ini membuatku berpikir sejenak. "Mungkin karena Sepi" jawabku.
Siang ini Sepi mengetuk pintu kamarku, dan ingin bergabung denganku. Kupersilahkan asal tak mengganggu keasyikanku membaca.
"Halo apa kabar kawan? lama tak jumpa ya!" ujar Sepi.
Sapaan si Sepi ini membuat otakku kembali memutar memori selama 18 tahun 10 bulan aku berjalan, selama perjalanan ini bisa dibilang aku dan Sepi berteman dekat. Dilahirkan tidak mempunyai saudara kandung itu, menyebalkan sekaligus asik. Ga ada teman bercerita mengenai sekolah, seseorang, atau keluarga adalah bagian menyebalkannya. Tenggelam dalam musik, ber imaji saat membaca, ngebacot sendiri, itu asiknya. Tapi mau asik atau menyebalkan, tetap saja kondisinya sama, Sepi. Sepi bagiku tak lebih hanya sebuah kondisi sementara. Banyak hal yang bisa menghadirkan Sepi. Sepi hadir bukan hanya karena ga ada temen dan bukan hanya karena seseorang sedang sendiri, tapi Sepi itu kita sendiri yang ciptakan, lalu ia datang. Kita merasa Sepi karena kita memang ingin dan butuh si Sepi ini untuk beberapa kondisi.
Dan ya karena siang ini Sepi menemaniku, ia melihatku sedang membaca buku, sebuah buku yang berjudul Rindu. Sapaannya tadi tak kuhiraukan karena sedang asyik berimaji. Sepi diam seribu bahasa, hanya mengamati. Saat kuambil minum,
"Buku itu tentang rindu ya? apa yang kamu rindukan?" Tanya Sepi.
Giliranku yang diam seribu bahasa.
"Aku kenal Rindu, aku pernah berbincang dengannya beberapa waktu lalu, aku dan dia satu frame loh! kurasa kami dihubungkan" kata Sepi menggebu-gebu.
"Siapa yang menghubungkan?" Tanyaku.
Sepi diam. Aku diam. Mungkin Sepi kangen Rindu.
"Entah, menurutmu siapa? yang jelas kami berjumpa saat kamu sedang sibuk, sibuk nongkrong, sibuk ngobrol, sibuk rapat, sibuk kuliah, pokonya saat-saat itu deh." jawab Sepi.
"Begini ceritanya, kala kamu sibuk, aku diam sambil mengamati kesibukanmu, lalu Rindu datang dan menyapaku. Ia banyak membicarakan ketika kalian saling bercerita....."
"Tapi kapan aku dan Rindu bercerita?" potongku.
"Tak usah malu kawan, akuilah kau dan Rindu pernah berjumpa di kamar ini hahaha, oke kulanjutkan ceritaku. Ia bilang bahwa kau pernah mengundang dia lalu bernostalgia tentang semua yang telah kau lakukan selama 18 tahun 10 bulan ini. Mulai dari cerita kau dengan almarhum kakekmu, lalu menginjak SD, SMP, SMA, kondisimu saat masuk kuliah, hingga orang yang pernah singgah dalam hidupmu hahaha aku tertawa geli mengingat hal itu. Oke lupakan, tapi sejujurnya aku merasa cemburu karena kamu menceritakan semua itu hanya pada Rindu. Aku merasa tersaingi, padahal kan dari kamu lahir aku selalu bersamamu. Lalu Rindu mengucapkan terima kasih kepadaku berkali-kali. Aku heran bukan main, perasaan jengkelku pada Rindu dibalas dengan terima kasih bertubi-tubi. Kau tau kenapa?" tanya Sepi.
Kuangkat bahu pertanda tidak tahu. Lalu Sepi menjawabnya,
"Karena Rindu tidak akan ada jika aku tidak ada, Rindu bilang kalau aku yang menciptakan dia."
Aku diam, Sepi tersenyum, lalu Rindu datang.