Friday, July 15, 2016

-

Malam hari ketika kau terlihat, mempunyai daya tarik yang impresif bagi sang laut
Adanya dirimu sangat mempengaruhi gerak-geriknya
Efek pasang surut yang kau timbulkan
Membuatnya begitu hidup.
Unik, walau interaksi yang terjadi tidak berkorelasi
Nampaknya laut tidak peduli, malam ini laut sedang pasang purnama.
Read More

Thursday, July 14, 2016

Perasaan Itu

Dari tahun lalu perasaan itu tidak pernah berubah. Perasaan yang membuatku aneh tak karuan. "Ah mungkin ini hanya sebatas rasa sementara" pikir-ku saat itu. Dua kali aku membuktikan bahwa aku dapat memiliki perasaan yang sama dengan orang yang berbeda, namun tidak berlaku. Kujalani hari-hari dengan mencari perhatianmu. Nihil. Kamu memang beda dari yang lain, dari setahun lalu perhatianmu belum berhasil kumiliki. Nampaknya perasaan ini telah mengalahkan ego-ku. Perasaan yang lebih dari sekedar ingin memiliki, perasaan yang hanya ada pada dirimu saja, perasaan yang hanya ingin menaruh segala tentangmu disana. Izinkan aku bercerita mengenai memoar tentangmu di tahun  ini.

Bulan kedua belas, bulan setengah. Puncaknya aku mencari perhatian padamu. Buku pertama yang kamu pinjam dariku, buku yang aku jadikan guyonan padamu. Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer.


Aku mulai merasa tingkahku membuatmu risih. Terlebih saat kupasang display picture lineku denganmu.

"Kamu risih ya dengan sikapku?"
"Iya."
"Jadi aku harus ngapain nih?"
"Ya berhenti lah, kamu gangguin terus."
"Oke, aku berhenti."
"Janji ya mulai besok?"
"Dari malam ini bukan?"

Malam itu aku berjanji tidak akan membuatmu risih lagi dengan kehadiranku. Sejak malam itu, aku hanya bisa mengagumimu dari jauh. Bukan, bukan karena tidak berani mendekatimu secara gamblang. Tapi aku tidak mau membuatmu menjadi risih, apalagi sampai tidak nyaman. Di satu sisi memang sedih tapi di satu sisi, aku senang. Senang bisa melihatmu tertawa dengan teman-temanmu, senang melihat wajahmu memerah saat ngobrol dengan senior karena malu, dan hal-hal lainnya yang membuatku senang. Satu waktu, kulihat kamu gundah. Ingin sekali aku bertanya saat itu mengenai kabarmu. Saat itu aku memilih diam penuh tanya.

Seminggu kemudian, wajahmu tidak bersinar seperti biasanya. Masih dengan raut muka gundah yang sama. Kuberanikan diriku bertanya saat mengantarmu pulang secara tidak sengaja.

"Kamu kenapa?"
"Engga gapapa."
"Lantas kenapa sedih?"
"Sotau, siapa yang sedih."
"Wajahmu berbicara begitu."
"Gapapa."
"Dari seminggu yang lalu loh."
"Lagi mens."
"Hah seminggu mens dengan larut dalam sedih?"
"Iya, cewe susah ka, udah ah jangan dibahas."
"Ok."

Seminggu kemudian ketika rapat malam puncak kaderisasi himpunan, pertama kalinya kamu jadi notulenku. Argumenku diserang senior saat itu, dan kamu yang ada di belakangku mendukung argumenku. Pukul dua dini hari, kamu tidur di bahuku. Aku berharap waktu berhenti saat itu. Saat yang membuatku berdebar-debar entah karuan.  

Bulan ketiga belas, bulan konjugasi. Siang itu ada rapat dengan pihak dekanat, handphonemu ada padaku karena paket dataku habis. Iseng kucari namaku pada chat history handphonemu itu. Ternyata ada! Bahagia setengah mati. Lebih dalam kususuri, ternyata ada informasi tentang perasaanmu mengagumi seseorang. Seseorang itu bukan aku. Seketika aku kesal, mendadak rapat itu tidak kondusif bagiku. Aku tidak mendengarkan apapun saat rapat itu. Kukembalikan handphone itu lalu aku pulang dengan sesak di dada. Marah, tapi bingung. Kenapa harus marah? kemudian empat belas hari anomali rasa menyerangku.

Bulan keempat belas, bulan sabit pertama. Sebuah pesan sederhana yang kamu tempel pada buku yang kamu pinjam dariku. Sebuah terima kasih yang sederhana, tapi bermakna.


Bulan kelima belas, bulan sabit. Kita sudah jarang berjumpa, tidak tahu kabarmu bagaimana. Tiba-tiba terdengar kabar bahwa kamu sedang sakit. Komplikasi. Segera setelah mendengar kabar itu aku datang menjengukmu dengan segala kebodohanku. Aku tidak bisa menilaimu saat itu karena aku sendiri salah tingkah. Dan katanya kamu tersipu. Semoga benar adanya bukan hanya sebatas katanya. Cepat sembuh, kembali bersinar, aku rindu.

Sampai berjumpa di bulan ketujuh belas!


___________________________________________________________

Tetaplah menjadi bulanku, bulan yang selalu membuatku bertanya-tanya.
Tetaplah menjadi bulanku, segala bentuk fase akan kunikmati.
Read More

Saturday, July 2, 2016

Dia

Dia,
Bulan yang menjadi perhatian kala malam.

Dia,
Api ke-11 di dunia yang tak pernah padam.

Dia,
Bunga opium yang membuatku mabuk-mandam.

Dia,
Alasanku berjalan dalam diam.
Read More

Saturday, June 11, 2016

Bulan Terang di Kota Tetangga


Malam ini,
Ia menyapa bulan seperti biasa
Bulan diam seribu bahasa
Nampaknya bulan terang di kota tetangga

Malam ini,
Ia rasa bulan tak akan menemaninya
Bulan membenarkan apa yang ia rasa
Nampaknya bulan bersinar makin terang di kota tetangga

Malam ini.....


Bulan ingin menemani siapa?
Read More

Thursday, September 24, 2015

Resah Menjelang Hari Raya

9 hari sebelum hari raya Iedul Adha, 
Kabar duka terdengar dari keluargaku di kampus. Salah satu senior yang tidak kukenal dengan dekat, hanya sebatas kenal. Resah masih bersembunyi. Turut berduka dan doa-doa kuucapkan.

8 hari sebelum hari raya Iedul Adha, 
Kabar duka terdengar lagi, masih dari keluargaku di kampus. Ibunda dari teman sekelasku. Kali ini Resah memanggilku. Turut berduka, saran, serta doa kuucapkan.

5 hari sebelum hari raya Iedul Adha,
Aku menulis mengenai k-e-m-a-t-i-a-n. Isi tulisanku malam itu :

"Kematian. Adalah urusan yang tidak bisa ditunda atau dimajukan." Tere Liye, Rindu.

Aku percaya bahwa lahir, jodoh, dan mati sudah ditentukan oleh Allah SWT. Aku pun percaya akan hubungan sebab-akibat. Lahirnya seseorang akan merubah seseorang pula, bertemunya seseorang dengan seseorang akan mengubah seseorang pula, begitu pula dengan kematian. Kematian seseorang akan mengubah seseorang pula. Walau pun ya, kematian tidak akan pandang bulu. Tak peduli muda atau tua, kaya atau miskin, mulia atau hina, semua akan mengalaminya.  

"Apakah kematian adalah akhir dari perjalanan ini kawan?" Tanya Otak.

"Kurasa itu bukan akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan baru pada ruang dan waktu yang berbeda, tapi entahlah, rahasia Sang Pencipta." Jawab Hati.

"Karena kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali."

4 hari sebelum hari raya Iedul Adha, 
Kabar duka kembali terdengar, masih dalam ruang lingkup yang sama, keluargaku di kampus. Ayahanda dari adik kelasku. Mulai kurasakan sesuatu yang aneh. Apalagi semalam aku baru saja menulis tentang "dia". Resah duduk dan mengikuti kemana-mana. Turut berduka, saran, serta doa kembali kuucapkan, bedanya dengan intonasi dan intuisi yang sangat dalam. Apakah ini sebuah pertanda? kematian ketiga dari lingkungan yang berkesinambungan. Resah berhasil merasuki diriku.

1 hari sebelum Iedul Adha,
Aku sudah tenang dan terus berdoa tentang segala hal. Pukul 10 malam kurang lebih, aku pulang dari Jatinangor. Ada kecelakaan di depan IPDN, satu orang terbaring kaku di trotoar, ditutupi koran, dan dikerumuni banyak orang. Turut berduka serta doa kembali kuucapkan.



"Kematian keempat di bulan ini kaw."


Resah datang lagi.
Read More

Tuesday, September 15, 2015

Suatu Malam

Segarkan ingatanmu saat menghirupku
Resapi rasa hadirnya diriku..

Warna, spektrum dalam suatu cahaya sempurna. Malam ini, semua warna mengabur berbaur lepas tidak beraturan.

Aku bisa hidupkan dirimu hari ini

Rasa, tanggapan hati yang tak bisa dibohongi. Malam ini, semua rasa menjauh dari nyata, Dibawa melintas cahaya dan berputar mengelilingi semesta.

Terbang, melayang, ke awan menghilang

Gerak, peralihan tempat ke tempat yang lain dengan perintah dari sensor motorik oleh otak. Malam ini, otak sedang beristirahat. Dan gerak bebas melangkah kemana saja, Seakan semesta berdansa menari bersama.

Jangan rusak malam ini kawan. Simpan dulu semua masalah. Karena malam ini, tidak ada aturan mengenai warna. Malam ini, rasa menjauh dari nyata. Malam ini, gerak bebas kemana saja. Tapi ada yang kurang malam ini.

Malam ini...


Kurang panjang kawan.
Read More

Sunday, September 6, 2015

Sepi Bicara Rindu

Akhir-akhir ini aku menikmati semua aktifitas yang kulakukan. Nongkrong, memahami musik, merencanakan selama satu semester ini mau ngapain, membaca buku, ngobrol, semuanya seakan mengalir santai. Entah sih, perasaan menikmati semuanya ini seakan baru kurasakan. Aku menikmati semuanya yang telah berlalu hingga saat ini aku menulis. Lalu terlintas sebuah tanya "kenapa jadi melankolis gini sih?" diikuti oleh suasana kamar yang sejuk karena kunyalakan kipas angin di siang yang terik ini dan alunan merdu Payung Teduh dan Mocca ini membuatku berpikir sejenak. "Mungkin karena Sepi" jawabku.

Siang ini Sepi mengetuk pintu kamarku, dan ingin bergabung denganku. Kupersilahkan asal tak mengganggu keasyikanku membaca. 

"Halo apa kabar kawan? lama tak jumpa ya!" ujar Sepi.

Sapaan si Sepi ini membuat otakku kembali memutar memori selama 18 tahun 10 bulan aku berjalan, selama perjalanan ini bisa dibilang aku dan Sepi berteman dekat. Dilahirkan tidak mempunyai saudara kandung itu, menyebalkan sekaligus asik. Ga ada teman bercerita mengenai sekolah, seseorang, atau keluarga adalah bagian menyebalkannya. Tenggelam dalam musik, ber imaji saat membaca, ngebacot sendiri, itu asiknya. Tapi mau asik atau menyebalkan, tetap saja kondisinya sama, Sepi. Sepi bagiku tak lebih hanya sebuah kondisi sementara. Banyak hal yang bisa menghadirkan Sepi. Sepi hadir bukan hanya karena ga ada temen dan bukan hanya karena seseorang sedang sendiri, tapi Sepi itu kita sendiri yang ciptakan, lalu ia datang. Kita merasa Sepi karena kita memang ingin dan butuh si Sepi ini untuk beberapa kondisi.

Dan ya karena siang ini Sepi menemaniku, ia melihatku sedang membaca buku, sebuah buku yang berjudul Rindu. Sapaannya tadi tak kuhiraukan karena sedang asyik berimaji. Sepi diam seribu bahasa, hanya mengamati. Saat kuambil minum,

"Buku itu tentang rindu ya? apa yang kamu rindukan?" Tanya Sepi. 

Giliranku yang diam seribu bahasa. 

"Aku kenal Rindu, aku pernah berbincang dengannya beberapa waktu lalu, aku dan dia satu frame loh! kurasa kami dihubungkan" kata Sepi menggebu-gebu.
"Siapa yang menghubungkan?" Tanyaku. 

Sepi diam. Aku diam. Mungkin Sepi kangen Rindu. 

"Entah, menurutmu siapa? yang jelas kami berjumpa saat kamu sedang sibuk, sibuk nongkrong, sibuk ngobrol, sibuk rapat, sibuk kuliah, pokonya saat-saat itu deh." jawab Sepi. 
"Begini ceritanya, kala kamu sibuk, aku diam sambil mengamati kesibukanmu, lalu Rindu datang dan menyapaku. Ia banyak membicarakan ketika kalian saling bercerita....." 
"Tapi kapan aku dan Rindu bercerita?" potongku. 
"Tak usah malu kawan, akuilah kau dan Rindu pernah berjumpa di kamar ini hahaha, oke kulanjutkan ceritaku. Ia bilang bahwa kau pernah mengundang dia lalu bernostalgia tentang semua yang telah kau lakukan selama 18 tahun 10 bulan ini. Mulai dari cerita kau dengan almarhum kakekmu, lalu menginjak SD, SMP, SMA, kondisimu saat masuk kuliah, hingga orang yang pernah singgah dalam hidupmu hahaha aku tertawa geli mengingat hal itu. Oke lupakan, tapi sejujurnya aku merasa cemburu karena kamu menceritakan semua itu hanya pada Rindu. Aku merasa tersaingi, padahal kan dari kamu lahir aku selalu bersamamu. Lalu Rindu mengucapkan terima kasih kepadaku berkali-kali. Aku heran bukan main, perasaan jengkelku pada Rindu dibalas dengan terima kasih bertubi-tubi. Kau tau kenapa?" tanya Sepi. 

Kuangkat bahu pertanda tidak tahu. Lalu Sepi menjawabnya, 

"Karena Rindu tidak akan ada jika aku tidak ada, Rindu bilang kalau aku yang menciptakan dia."





Aku diam, Sepi tersenyum, lalu Rindu datang.
Read More

Followers