Thursday, July 14, 2016

Perasaan Itu

Dari tahun lalu perasaan itu tidak pernah berubah. Perasaan yang membuatku aneh tak karuan. "Ah mungkin ini hanya sebatas rasa sementara" pikir-ku saat itu. Dua kali aku membuktikan bahwa aku dapat memiliki perasaan yang sama dengan orang yang berbeda, namun tidak berlaku. Kujalani hari-hari dengan mencari perhatianmu. Nihil. Kamu memang beda dari yang lain, dari setahun lalu perhatianmu belum berhasil kumiliki. Nampaknya perasaan ini telah mengalahkan ego-ku. Perasaan yang lebih dari sekedar ingin memiliki, perasaan yang hanya ada pada dirimu saja, perasaan yang hanya ingin menaruh segala tentangmu disana. Izinkan aku bercerita mengenai memoar tentangmu di tahun  ini.

Bulan kedua belas, bulan setengah. Puncaknya aku mencari perhatian padamu. Buku pertama yang kamu pinjam dariku, buku yang aku jadikan guyonan padamu. Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer.


Aku mulai merasa tingkahku membuatmu risih. Terlebih saat kupasang display picture lineku denganmu.

"Kamu risih ya dengan sikapku?"
"Iya."
"Jadi aku harus ngapain nih?"
"Ya berhenti lah, kamu gangguin terus."
"Oke, aku berhenti."
"Janji ya mulai besok?"
"Dari malam ini bukan?"

Malam itu aku berjanji tidak akan membuatmu risih lagi dengan kehadiranku. Sejak malam itu, aku hanya bisa mengagumimu dari jauh. Bukan, bukan karena tidak berani mendekatimu secara gamblang. Tapi aku tidak mau membuatmu menjadi risih, apalagi sampai tidak nyaman. Di satu sisi memang sedih tapi di satu sisi, aku senang. Senang bisa melihatmu tertawa dengan teman-temanmu, senang melihat wajahmu memerah saat ngobrol dengan senior karena malu, dan hal-hal lainnya yang membuatku senang. Satu waktu, kulihat kamu gundah. Ingin sekali aku bertanya saat itu mengenai kabarmu. Saat itu aku memilih diam penuh tanya.

Seminggu kemudian, wajahmu tidak bersinar seperti biasanya. Masih dengan raut muka gundah yang sama. Kuberanikan diriku bertanya saat mengantarmu pulang secara tidak sengaja.

"Kamu kenapa?"
"Engga gapapa."
"Lantas kenapa sedih?"
"Sotau, siapa yang sedih."
"Wajahmu berbicara begitu."
"Gapapa."
"Dari seminggu yang lalu loh."
"Lagi mens."
"Hah seminggu mens dengan larut dalam sedih?"
"Iya, cewe susah ka, udah ah jangan dibahas."
"Ok."

Seminggu kemudian ketika rapat malam puncak kaderisasi himpunan, pertama kalinya kamu jadi notulenku. Argumenku diserang senior saat itu, dan kamu yang ada di belakangku mendukung argumenku. Pukul dua dini hari, kamu tidur di bahuku. Aku berharap waktu berhenti saat itu. Saat yang membuatku berdebar-debar entah karuan.  

Bulan ketiga belas, bulan konjugasi. Siang itu ada rapat dengan pihak dekanat, handphonemu ada padaku karena paket dataku habis. Iseng kucari namaku pada chat history handphonemu itu. Ternyata ada! Bahagia setengah mati. Lebih dalam kususuri, ternyata ada informasi tentang perasaanmu mengagumi seseorang. Seseorang itu bukan aku. Seketika aku kesal, mendadak rapat itu tidak kondusif bagiku. Aku tidak mendengarkan apapun saat rapat itu. Kukembalikan handphone itu lalu aku pulang dengan sesak di dada. Marah, tapi bingung. Kenapa harus marah? kemudian empat belas hari anomali rasa menyerangku.

Bulan keempat belas, bulan sabit pertama. Sebuah pesan sederhana yang kamu tempel pada buku yang kamu pinjam dariku. Sebuah terima kasih yang sederhana, tapi bermakna.


Bulan kelima belas, bulan sabit. Kita sudah jarang berjumpa, tidak tahu kabarmu bagaimana. Tiba-tiba terdengar kabar bahwa kamu sedang sakit. Komplikasi. Segera setelah mendengar kabar itu aku datang menjengukmu dengan segala kebodohanku. Aku tidak bisa menilaimu saat itu karena aku sendiri salah tingkah. Dan katanya kamu tersipu. Semoga benar adanya bukan hanya sebatas katanya. Cepat sembuh, kembali bersinar, aku rindu.

Sampai berjumpa di bulan ketujuh belas!


___________________________________________________________

Tetaplah menjadi bulanku, bulan yang selalu membuatku bertanya-tanya.
Tetaplah menjadi bulanku, segala bentuk fase akan kunikmati.

1 comment:

Followers