Thursday, September 24, 2015

Resah Menjelang Hari Raya

9 hari sebelum hari raya Iedul Adha, 
Kabar duka terdengar dari keluargaku di kampus. Salah satu senior yang tidak kukenal dengan dekat, hanya sebatas kenal. Resah masih bersembunyi. Turut berduka dan doa-doa kuucapkan.

8 hari sebelum hari raya Iedul Adha, 
Kabar duka terdengar lagi, masih dari keluargaku di kampus. Ibunda dari teman sekelasku. Kali ini Resah memanggilku. Turut berduka, saran, serta doa kuucapkan.

5 hari sebelum hari raya Iedul Adha,
Aku menulis mengenai k-e-m-a-t-i-a-n. Isi tulisanku malam itu :

"Kematian. Adalah urusan yang tidak bisa ditunda atau dimajukan." Tere Liye, Rindu.

Aku percaya bahwa lahir, jodoh, dan mati sudah ditentukan oleh Allah SWT. Aku pun percaya akan hubungan sebab-akibat. Lahirnya seseorang akan merubah seseorang pula, bertemunya seseorang dengan seseorang akan mengubah seseorang pula, begitu pula dengan kematian. Kematian seseorang akan mengubah seseorang pula. Walau pun ya, kematian tidak akan pandang bulu. Tak peduli muda atau tua, kaya atau miskin, mulia atau hina, semua akan mengalaminya.  

"Apakah kematian adalah akhir dari perjalanan ini kawan?" Tanya Otak.

"Kurasa itu bukan akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan baru pada ruang dan waktu yang berbeda, tapi entahlah, rahasia Sang Pencipta." Jawab Hati.

"Karena kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali."

4 hari sebelum hari raya Iedul Adha, 
Kabar duka kembali terdengar, masih dalam ruang lingkup yang sama, keluargaku di kampus. Ayahanda dari adik kelasku. Mulai kurasakan sesuatu yang aneh. Apalagi semalam aku baru saja menulis tentang "dia". Resah duduk dan mengikuti kemana-mana. Turut berduka, saran, serta doa kembali kuucapkan, bedanya dengan intonasi dan intuisi yang sangat dalam. Apakah ini sebuah pertanda? kematian ketiga dari lingkungan yang berkesinambungan. Resah berhasil merasuki diriku.

1 hari sebelum Iedul Adha,
Aku sudah tenang dan terus berdoa tentang segala hal. Pukul 10 malam kurang lebih, aku pulang dari Jatinangor. Ada kecelakaan di depan IPDN, satu orang terbaring kaku di trotoar, ditutupi koran, dan dikerumuni banyak orang. Turut berduka serta doa kembali kuucapkan.



"Kematian keempat di bulan ini kaw."


Resah datang lagi.

0 comments:

Post a Comment

Followers